ISTIDRAJ jebakan kenikmatan

Rezeki yang kita dapat, ALLAH yang berikan...

Keamanan yang kita rasa, ALLAH yang izinkan...

Harta dan Kemewahan yang kita ada, ALLAH yang limpahkan...

Kesuksesan yang kita peroleh, ALLAH yang perkenankan...

Kecerdasan , kepintaran, pangkat/jabatan,  dan segudang titel pendidikan yg kita punya,  ALLAH yang kuasakan

Kecantikan,  ketampanan, dan kesempurnaan fisik yg melekat,  ALLAH pula yg titipkan


 Istidraj


J A D I....

Jangan kita takabur, membusungkan dada, meremehkan dan merendahkan orang lain, dan bercakap besar.....

karena kita hanya seorang hambaNYA, bukan siapa-siapa, yang tidak punyai apa-apa,
semuanya MILIK ALLAH Subhanahu Wata'ala. ( yang Maha SUCI dan Maha TINGGI ). Dan itu semua akan kembali kepada Allah SWT,

Maka yg akan di tanya oleh Allah kepada kita saat di hari perhitungan kelak adalah :

" Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”  (QS. At Takatsur: 8).

KITA AKAN DI TANYA OLEH ALLAH TENTANG SEMUA KENIKMATAN2 TERSEBUT DIATAS YG BAGI SEBAGIAN MANUSIA SEBAGAI SIKAP YANG DIBANGGA2 KAN,  BAHKAN UNTUK BERMEGAH MEGAHAN KARENA SOMBONG KEPADA MANUSIA LAIN YG JAUH LEBIH RENDAH DARI DIRINYA. SUDAHKAH ITU SEMUA MENJADIKAN JALAN SYUKUR DAN JALAN PENGHAMBAAN KEPADA RABB-NYA?

perlu kita ketahui bersama bahwa nikmat harta, kemewahan, kedudukan, jbatan,  kesuksesan,  keamanan kecerdasan dll yang Allah Ta’ala berikan kepada kita bukanlah tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai kita. Karena nikmat berupa kenikmatan2 tersebut juga Allah Ta’ala berikan kepada hamba-hambaNya yang musyrik dan kafir. Bahkan bisa jadi orang-orang kafir itu lebih banyak hartanya dan kesuksesannya dsb daripada kita. Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebut nikmat harta ini sebagai suatu kenikmatan yang sifatnya nisbi semata, tidak mutlak. Demikian pula nikmat-nikmat lain seperti badan yang sehat, kedudukan yang tinggi di dunia, banyaknya anak dan istri yang cantik.

Bahkan bisa jadi kenikmatan berupa harta, kemewahan, kesuksesan,  keamanan, kecerdasan dll ini adalah bentuk istidroj (tipuan atau hukuman) dari Allah sehingga manusia semakin tersesat dan semakin menjauh dari jalan-Nya yang lurus. Atau bisa jadi merupakan bentuk ujian dari Allah kepada manusia.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Ketika nikmat yang sifatnya nisbi merupakan suatu bentuk istidroj bagi orang kafir yang dapat menjerumuskannya ke dalam hukuman dan adzab, maka nikmat itu seolah-olah bukanlah suatu kenikmatan. Nikmat itu justru merupakan ujian sebagaimana istilah yang Allah berikan di dalam kitab-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) كَلَّا

’Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata,’Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata,’Tuhanku menghinakanku’. Sekali-kali tidak!’ (QS. Al Fajr [89]: 15-17)

Maksudnya, tidaklah setiap yang dimuliakan dan diberi nikmat oleh Allah di dunia berarti Allah benar-benar memberikan nikmat kepadanya. Bisa jadi hal itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah bagi manusia. Dan tidaklah setiap yang Allah sempitkan rizkinya, dengan memberinya rizki sekadar kebutuhannya dan tidak dilebihkan, berarti Allah menghinakannya. Tetapi Allah menguji hambaNya dengan kenikmatan sebagaimana Allah juga menguji hambaNya dengan kesulitan.”

Oleh karena itu, marilah kita meng-introspeksi diri kita masing-masing. Setiap hari kita banyak berbuat maksiat dan kedurhakaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, namun sedikit sekali kita melakukan amal shalih. Akan tetapi, Allah Ta’ala justru membuka lebar-lebar pintu rizki kita sehingga kita dapat hidup berkecukupan. Saudaraku, tidakkah kita khawatir bahwa ini adalah bentuk istidroj (tipuan) dari Allah Ta’ala sehingga kita semakin durhaka kepada-Nya dengan harta , jabatan,  kmewahan,  kesuksesan,  keamanan,  kecerdasan yang kita miliki? Atau tidakkah kita khawatir bahwa ini adalah ujian dari Allah kepada kita, sehingga Allah mengetahui mana di antara hamba-Nya yang bersyukur dan mana yang kufur? Atau apakah kita justru akan tertipu sehingga kita merasa aman dari adzab Allah dan terus-menerus berbuat maksiat karena menyangka bahwa Allah mencintai kita dengan dilancarkan rizkinya? Wallahul musta’an.

JADI....

Masih berani kah kita mendurhakai dan meng ingkari ALLAH? Thp nikmat2 tersebut dgn jalan merendahkan dan meremehkan orang lain?? Na'udzubillahi min dzalik. 

0 Response to "ISTIDRAJ jebakan kenikmatan"

Total Pageviews

Chat

langganan

Untuk berlangganan artikel, masukan email anda: amal agama