Laman

mengundang Allah Didalam Pesta!

Suatu kali syech ilyas rah.a diundang pada suatu acara perkawinan oleh orang yang mencintainya. Ia seorang khawas/kaya dan punya jabatan.
 
Ketika beliau sampai diacara tersebut beliau terdiam karena acara dimeriahkan oleh musik dan tari ala India.
Syech terlihat sedih dan melihat perkawinan seorang islam dengan cara orang kafir.

Dengan hikmahnya syech telah panggil tuan rumah, lalu beliau rah.a telah bertanya .

Syech : “Apakah ini pesta perkawinan anak kamu?”
Tuan rumah katakan : Ya…!
Syech : “Apakah dalam acara ini kau megundang semua orang?”
Tuan rumah katakan : Ya…!
Syech katakan : “Apakah pejabat-pejabat negeri ini kamu undang?”
Tuan rumah katakan : Ya…!
Syech katakan “apakah seluruh keluarga dan kerabat kamu undang?”
Tuan rumah katakan : Ya…!
Syech katakan : “Apakah tetangga dekat dan jauh semua juga  kamu undang?”
Tuan rumah katakan : Ya…!
Syech katakan : “Apakah seluruh pekerja-pekerjamu kamu undang?”
Tuan rumah katakan : Ya…!
Syech katakan : “Apakah pelayan di rumah ini, tukang kebun, tukang cuci, tukang wc kamu, kamu juga undang?”
Tuan rumah katakan : Ya! Bahkan.

Syech lyas rah.a terdiam sedih, maka beliau katakan : “Wahai saudara!” kamu telah undang dalam pesta perkawinan anakan kamu semua orang, kamu undang para pejabat, kerabat, tetangga, bahkan pekerja sampai tukang bersih wc kamu, tetapi apakah kamu mengundang Allah SWT didalam pesta kamu?

Orang itu terdiam dan menyadari bahwa Allah SWT tak hadir dalam pesa perkawinan anaknya karena tidak pakai cara nabi SAW melainkan cara orang kafir dengan pesta musik dan tari wanita.

Islam Masuk Indonesia Ketika Nabi Muhammad SAW Masih Hidup

Sebagai pelabuhan niaga samudera, Barus (Lobu Tua) diperkirakan sudah ada sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Bahkan ada juga yang memerkirakan lebih jauh dari itu, sekitar 5000 tahun sebelum Nabi Isa lahir. Perkiraan terakhir itu didasarkan pada temuan bahan pengawet dari berbagai mummy Fir'aun Mesir kuno yang salah satu bahan pengawetnya menggunakan kamper atau kapur barus. Getah kayu itu yang paling baik kualitasnya kala itu hanya ditemukan di sekitar Barus. Sejarawan di era kemerdekaan, Prof Muhamad Yamin memerkirakan perdagangan rempah-rempah diantara kamper sudah dilakukan pedagang Nusantara sejak 6000 tahun lalu ke berbagai penjuru dunia. Seorang pengembara Yunani, Claudius Ptolomeus menyebutkan bahwa selain pedagang Yunani, pedagang Venesia, India, Arab, dan juga Tiongkok lalu lalang ke Barus untuk mendapatkan rempah-rempah. Lalu pada arsip tua India, Kathasaritsagara, sekitar tahun 600 M, mencatat perjalanan seorang Brahmana menacari anaknya hingga ke Barus. Brahmana itu mengunjungi Keladvipa (pulau kelapa diduga Sumatera) dengan rute Ketaha (Kedah-Malaysia), menyusuri pantai Barat hingga ke Karpuradvipa (Barus). 
Pada sekitar tahun 627-643 atau tahun pertama Hijriahki kelompok pedagang Arab memasuki pelabuhan Barus. Diantara mereka tercatat nama Wahab bin Qabishah yang mendarat di Pulau Mursala pad a 627 M. Ada juga utusan Khulafaur Rasyidin bernama Syekh Ismail yang singgah di Barus sekitar tahun 634. Sejak itu, bangsa Arab (Islam) mendirikan koloni di Barus. Bangsa Arab menamakan Barus dengan sebutan Fansur atau Fansuri, misalnya oleh penulis Sulaiman pada 851 M dalam bukunya Silsilatus Tawarikh. Berikutnya Dinasty Syailendra dari Champa (Muangthai) menaklukkan empirium Barus sekitar 850 M dan menamakan koloni itu seabagai Kalasapura. Setelah penaklukan itu, di kota pelabuhan itu berdiri koloni yang terdiri dari berbagai bangsa terpisah dari penduduk asli. Seabad setelah itu, bangsa Eropa menemukan Barus. Penjelajah terkenal Marcopolo menjejakkan kakinya di bandar perniagaan itu pada 1292 M. Sedangkan sejarawan muslim ternama, Ibnu Batutah, mengunjungi Barus pada 1345 M. Berikutnya pelaut Portugis berdagang di kota ini pada 1469 M. Sedangkan pedagang dari berbagai belahan dunia lain menyinggahi Barus, tercatat dari Srilanka, Yaman, Persia, Inggeris, dan Spanyol. 
Emporium Sarus
Banyak sejarawan muslim mengaku arti penting pantai Barat Pulau Sumatera sebagai salah satu daerah awal masuknya Islam ke Nusantara. Namun belum ada kesepakatan dintara mereka, apakah Barus merupakan lokasi pertama masuknya Islam. Pandangan itu setidaknya mengemuka dalam Seminar I "Masuknya Islam di Nusantara" yang diselenggarakan di Medan pada tahun 1963. Dalam seminar itu, seorang sejarawan lokal, bernama Dada Meuraksa berkeyakinan Islam masuk ke Barus pada tahun I Hijriah, berdasarkan penemuan batu nisan Syekh Rukunuddin di komplek pemakaman mahligai. 
Batu nisan itu menginformasikan bahwa Syekh Rukunuddin wafat dalam usia 100 tahun, 2 bulan, dan 22 hari pada tahun hamim atau hijaratun Nabi. Meuraksa menerjemahkan ha - mim itu 8-40 yang kemudian dijumlahkan menjadi 48 H. Perhitungan itu berdasarkan Ilmu Falak dari kitab Tajut Mutuk. Namun pada seminar itu pandangan Meuraksa disangkal ulama terkenal Sumut saat itu, ustadz HM Arsyad Thalib Lubis. Menurut ulama pendiri AI Jam'iyatul Washliyah ini, bukti nisan tidak dapat dijadikan dasar penentuan. Perbedaan itu terus berlangsung hingga belasan tahun kemudian. Baru pada 1978 sejumlah arkeolog dipirnpin Prof DR Hasan Muarif Ambary melakukan penelitian terhadap berbagai nisan makam yang ada di sekitar daerah Barus. Pada penelitian terhadap nisan Syekh Rukunuddin, arkeolog dari Universitas Airlangga Surabaya itu meyakini Islam sudah masuk sejak tahun I Hijriah. Hal itu berdasarkan pada perhitungan yang menguatkan pendapat pertama oleh sejarawan local Dada Meuraksa yang didukung sejumlah sejarawan lainnya. 
Perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus yang bertuliskan aksara Arab dan Persia. Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut itu, menurut ustadz Djamaluddin Batubara, hingga kini masih ada, namun ada yang belum bisa diterjemahkan, Hal itu disebabkan tulisannya merupakan aksara Persia kuno yang bercampur dengan huruf Arab. Ustadz Djamaluddin Batubara memiliki teori lain tentang keberadaan makam Syekh Mahmud yang letaknya terpencil di ketinggian bukit Papan Tinggi, Menurutnya, Syekh Mahmud berasal dari Hadramaut, Yaman, dan diperkirakan datang lebih awal dari Syekh Rukunuddin, yakni pada era 10 tahun pertama dakwah rasulullah Muhammad SAW di Mekkah, Masa kedatangan ulama, yang diduga masih kerabat dan sahabat nabi itu, membawa ajaran Islam Tauhid tanpa Syariat, "Itu sebabnya di makam itu belum ada penanggalan, melainkan sabda nabi SAW yang bermakna tauhid," jelas ustadz Djamaluddin. Selain itu, ketinggian makam itu disbanding 43 makam lain menjadi alasan terdahulunya kedatangan Syekh Mahmud ketimbang penyebar Islam lainnya. 
Dijelaskan oleh ustadz lulusan Pondok Pesantren Purba Baru ini, Syekh Mahmud adalah merupakan penyebar Islam pertama di Barus, sedangkan 43 ulama lainnya merupakan pengikut dan murid-muridnya. Ke 43 makam ulama penyebar Islam itu diantaranya, makam Syekh Rukunuddin, Tuanku Batu Badan, Tuanku Ambar, Tuan Kepala Ujung, Tuan Sirampak, Tuan Tembang, Tuanku Kayu Manang, Tuanku Makhodum, Syekh Zainal Abidin Ilyas, Syekh Ahmad Khatib Sidik, dan makam Imam Mua'azhansyah. Selanjutnya makam Imam Chatib Miktibai, Tuanku Pinago, Tuanku Sultan Ibrahim bin Tuanku Sultan Muhammadsyah Chaniago, dan makam Tuanku Digaung. 
Dikatakan oleh ustadz Djamaluddin, keberadaan Islam di Barus berhubungan langsung dengan Islam di Aceh. Beberapa arsip kuno menunjukkan adanya tiga ulama Islam yang menghubungkan Barus dan Aceh. Misalnya, keberadaan ulama terkenal Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Syamsuddin as Sumatrani, paham paham keagamaan mereka berseberangan dengan Syekh Abdul Rauf Singkil. Diyakini banyak sejarawan Islam, kedua ulama terdahulu bermukim dan menyebarkan pahamnya di Barus setelah paham Wujudiah mereka mendapat serangan dari Syekh Abdul Rauf Singkil dan tidak diakui di Kerajaan Islam Samudera Pasai, Aceh. 
Menurut ustadz Djamaluddin Batubara, etnik Batak dikenal sangat teguh memegang adat istiadat melebihi apapun. Sedangkan adat istiadat mereka pegang diperkuat dengan ajaran lokal Parmalim atau Sipetebegu. Namun patut dicatat, awalnya masuknya Islam dimasa Syekh Mahmud dan 43 ulama lainnya, diperkirakan tidak ada penolakan, malah terjadi sinkretisisme simbolik. Baru pada periode kedua masuknya Islam sekitar abad 17 M, ajaran itu ditolak, karena berlawanan dengan adat kebiasaan masyarakat setempat, "Jelasnya, ketika Islam tauhid atau sufistik datang, tak ada penolakan. Baru ketika Islam syariat datang masyarakat menolak," tegas Djamaluddin.

Dunia Telah Berubah

Ketika pertama kali Syech Ilyas Rah.a melepas jamaah orang orang Mewat tahun 1930 an untuk Khuruj fi Sabilillah 7 Orang pertama kali dihantar Oleh Syech Ilyas rah.a setelah sepuluh tahun Usaha. Maka beliau katakana : Dunia telah berubah !!. Kata para Masyaich : Bukan dunia yang berubah tetapi hati hati manusia mulai Alloh SWT rubah dari kecintaan dunia kepada meninggalkannya untuk sebarkan agama.
Ada seorang Raja sakit kanker hidung, Tabib katakan : Raja bisa sembuh asal hidungnya dipotong.
Raja fikir dari pada mati tak jadi raja, mendingan potong hidung saja. Maka jadilah ia raja tanpa hidung.
Waktu raja berpidato depan mentrinya, suaranya jadi lucu dan para mentri tertawa. Raja marah dan buat peraturan. Kalau masih mau jadi mentri maka harus potong hidung semua !!
Suatu saat Raja dan mentri berpidato didepan Rakyatnya. Semua rakyat tertawa karena suara mereka lucu.
Raja marah buat peraturan “ Kalu ingin jadi rakyatnya tinggal di daerahnya maka harus potong hidung !! “
Akhirnya semua rakyat potong hidung, maka jadilah negeri tanpa hidung. Setiap generasi lahir dipotong hidungnya sampai beberapa generasi, negeri tersebut sudah biasa tanpa hidung. Suatu waktu ada orang normal datang ke negeri tersebut, maka hal ini jadi aneh bagi orang negeri tersebut sambil berkata, ”Idiih lucu!! Ada orang kok mukanya ada daging / hidung...”
Tuan tuan wajar hal ini terjadi justru yang normal yang dikatakan aneh padahal mereka yang sakit.
Hari ini.. orang merasa aneh melihat ada orang tinggalkan anak istri buat agama. Kalau buat pergi berlayar, bekerja di Arab gak aneh. Padahal kehidupan sahabat demikian rupa bahkan aib kalau ada sahabat mati di rumah.
Sayangnya orang selalu katakan kalau kamu khuruj fi sabilillah maka bagaimana dengan anak istri kamu?, Hari ini hampir tak ada yang mengatakan : “Kalau kamu tak berangkat khuruj bagaimana nanti perasaan Rasululloh SAW ketika jumpa kamu” ??
Ingatlah!!! Bahwa kita akan jumpa Allah SWT dan Rasululloh SAW di akherat bagaimana jika kita biarkan hatinya terluka melihat keadaan umatnya yang jauh dari ajarannya sementara kita enak makan tidur di rumah bersama keluarga seperti hewan.
Laihatlah siklus hidup hewan Dia punya anak, kemudian anaknya diajar cari makan, anaknya besar kawin, makan tidur kemudian punya anak lagi, diajari cari makan lagi, kawin lagi. Tak pernah fikirkan perintah Allah SWT bagaimana dia dapat amalkan dan juga orang lain mampu amalkan juga.
Abu ishaq al Ashfani Rah.a seorang ulama tanah Hind ketika melihat ahli dzikir yang hanya dzikir saja. Beliau rah.a katakan : “Kamu seperti hewan kambing sibuk makan sendiri sementara teman teman kamu disembelih, tak ada fakir orang lain”.
Seekor harimau telah lahir di tengah-tengah sekumpulan kambing. Dia dipelihara oleh induk kambing dan bermain-main dengan anak-anak kambing.
Menjelang dewasa ia merasa minder dengan tanduk yang tumbuk di kepala anak-anak kambing sedangkan dirinya tidak bertanduk.
Ia menyangka kalau tak ada tanduk tak menang jika berkelahi dengan yang ada tanduk.
Keyakinannya bahwa tanduk yang besar akan kalahkan tanduk yang kecil.
Anak harimau menjadi rendah diri dan takut kepada kambing.
Tiba tiba ketika dia berjalan seorang diri berjumpa dengan sekawanan harimau, maka seekor harimau telah katakan kepadanya bahwa kamu adalah harimau, tetapi anak harimau tadi katakan : tidak saya adalah kambing…” ita tak percaya akan dirinya sendiri.
Harimau lain katakan : kamu harimau! Kakuatan kamu bukan pada tanduk melainkan karena cengkraman kuku kamu dan gigi taringmu, serta suara aumanmu.
Maka untuk meyakinkan anak harimau itu dibawa ke tepi kolam dan disuruh liat wajahnya,
dikatakannya “ lihatlah wajahmu” bukankah mirip dengan kami?”
barulah anak harimau itu sadar, kemudian ia dibawa oleh kumpulan harimau lain diajarkan bagaimana gunakan kuku, taring, suara, dsb Selama tiga hari.
Lepas tiga hari maka ia dikembalikan ke kawanan kambing, ketika ia berada ditengah mereka, maka anak harimau itu mengaum dan larilah semua kambing-kambing mendengar suara itu.
Begitulah orang islam kini telah lama berada ditengah-tengah kebesaran dunia orang kafir, yang memiliki keraajaan dan kekayaan dan merasa minder karena apa yang ada pad orang kafir tak ada pada dirinya.
Mereka terhina, dicaci, dipukuli, diperangi tetapi tak bias bebuat apa-apa karena keyakinannya kepada yang tampak.
Mereka menyakini kerajaan yang besar akan kalahkan yang kecil, tentara yang lengkap dengan persenjataan akan kalahkan yang  tak memiliki senjata, orang yang banyak hartanya akan kalahkan orang yang miskin.
Barulah ketika daI daI datang, beritahu mereka bahwa kekuatan kamu bukan dalah asbab dunia, kekayaan, kerajaan, dsb. Tetapi kekuatan kamu yang sebenarnya adalah dalam keyakinan LAILAHAILLALLOH dan amal sholeh yang dicontohkan nabi-nabi.
Awalnya mereka tak percaya bagaimana mungkin melawan mal hanya dengan amal. Tetapi setelah mereka dibawa keluar di jalan Alloh dilatih menggunakan dua senjata orang beriman yakni dakwah dan doa.
Pulang tasykil mereka teriak kepada setiap orang “Allah Kuasa Makhluk tak bisa bagi apa-apa. Barulah orang kafir, munafik, fasik tak bisa lawan mereka.
Nabi begitu lelah jumpa manusia dengan menghadapi caci maki dan fitnah manusia, ketika itu Nabi tertidur ketika itulah dengan belaian kasih sayang membelai kepala Nabi salallahu 'alaihi wassallam tidak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Nabi.
Nabi terbangun berkata ''Wahai Khadijah mengapa engkau menangis,? Adakah engkau menyesal mempersuamikan aku Muhammad, dahulu engkau wanita bangsawan engkau mulia engkau hartawan tetapi hari ini engkau telah dihina orang,
Semua orang telah menjauh darimu seluruh hata kekayaanmu telah habis adakah engkau menyesal wahai Khadijah mempersuamikan aku (Muhammad)..?
Khadijah berkata “Wahai suamiku , wahai Nabi Allah bukan itu yang aku tangiskan, dahulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu aku serahkan pada Allah dan Rasul-Nya, dahulu mempunyai kebangsawanan, kebangsawanan itu aku serahkan pada Allah dan Rasul-Nya, dahulu aku memiliki harta kekayaan dan kuserahkan juga pada Allah dan Rasul-Nya.
Wahai Rasulullah sekarang aku tidak mempunyai apa-apa lagi, tetapi engkau masih terus memperjuangkan Agama ini, “Wahai Rasulullah sekiranya aku telah mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah sungai, lautan engkau tidak mempunyai rakit atau jembatan maka engkau galilah lubang kuburku engkau gali engkau ambil tulang belulangku engkau jadikanlah sebagai jembatan untuk menyebrangi sungai itu untuk jumpa manusia ingatkan kepada mereka kebesaran Allah ingatkan kepada mereka yang hak ajak mereka kepada Islam wahai Rasulullah”.'
Seorang suami yang agung seorang istri yang agung, suami istri berpelukan sambil menangis memikirkan Agama ini.
Agama tersebar hingga hari ini kita kenal Allah bukan dengan mudah, Agama sampai pada kehidupan Agama, Agama sampai pada kampung kita, Agama sampai masuk kedalam rumah-rumah kita, Agama sampai pada ke hati-hati kita.
Bukan di bawa oleh burung, bukan dibawah oleh angin, bukan dibawah oleh air sungai yang mengalir tapi dibawah oleh pengorbanan Nabi dan para Sahabat, dibawah oleh para janda-janda para sahabat, dibawah oleh yatim-yatim para sahabat.
Ulama sampaikan,  hari ini kita senang-senang amal Agama diatas penderitaan dan jeritan janda-janda dan yatim-yatim para sahabat.
Hari ini kita senang amal-amal Agama diatas penderitaan Khadijah r.ha..!!!
Kalaulah hari ini kita tidak menghargai pengorbanan mereka apa yang harus kita jawab dihadapan Allah kalaulah kita jumpa Allah apa yang kita jawab dihadapan Nabi apa yg kita jawab didepan Abu Bakar yang menghabiskan seluruh harta bendanya untuk Agama ini, apalah yang akan kita jawab dihadapan ibu-ibu yang mulia kalau ibu jumpa dgn sahabiyah'' yang mengorbankan suami nya syahid di jalan Allah, apa yang akan kita jawab sekiranya kita jumpa anak-anak yatim para sahabat sedangkan mereka yang telah menggerakan ayah'nya untuk memperjuangkan Agama ini.
Agama sangat berhajat pada pengorbanan, Agama tidak akan tersebar dengan tulisan-tulisan dan Agama tidak akan tersebar dengan bicara-bicara.
Agama tidak akan pernah wujud dalam kehidupan kita tanpa mengorbankan diri kita, sudah menjadi syarat Agama akan wujud melalui pengorbanan, hidayah akan datang dalam diri kita melalui pengorbanan, Agama akan tersebar hidayah akan tersebar diujung  dunia melalui pengorbanan.
Allah SWT berirman : ''Hai orang-orang mukmin,  jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.'' (QS. Muhammad 7)
Dunia akan berubah kalau setiap ummat islam buat pengorbanan sebagai mana pengorbanan yang telah dibuat oleh Nabi SAW dan para sahabat.

Niatkan Diri Untuk Agama!

Seorang muslim yang tua dia mempunyai kebiasaan membuat kopi sehabis shalat Isa yang kopi ini nantinya akan dia minum untuk shalat tahajjut tengah malam nanti. Kebiasaan ini sudah bertahun-tahun dia lakukan dengan istiqomah menyediakan kopi untuk tahajjut.

Seperti biasanya orang tua tadi membuatkan kopi untuk diminum tahajjut malam nanti. Setelah membuatkan kopi di pun keluar rumah untuk bersilaturrahmi mendatangi saudaranya sesama muslim mengingatkan perkara bahwa kita hidup didunia sementara akhiratlah kehidupan yang abadi.

Ketika itu terjadilah gempa bumi dikampung mereka yang mengakibatkan seluruh rumah dan bangunan yang ada dikampung itu hancur semua, tetapi yang sangat menakjubkan ketika orang tua tadi pulang kerumahnya didapatinya rumahnya telah hancur rata dengan tanah, tetapi kopi yang biasa dibuatnya untuk diminum tahajjut malam tidak tumpah sedikitpun dan meja yang dibuat untuk menaruh kopi itu pun tidak bergeser sedikit pun.

Allah SWT biasa berkehendak menyelamatkan kopi itu, kenapa? Karena kopi ini dia niatkan untuk agama maka Allah SWT jaga.

Kalaulah hidup kita, keluarga kita dan harta benda kita niatkan untuk agama Allah, maka Allah SWT akan menjaganya. Insya Allah kita niatkan diri kita, keluarga kita dan harta benda kita untuk agama.

Raja yang Kehilangan Pangeran!

Ada seorang raja yang kehilangan pangeran dan raja menghendaki pangeran kembali kepadanya. Sebagian orang mencari, sebagian lagi sibuk menghibur raja dengan bernyanyi dan menari.

Akhirnya ada seorang yang berhasil menemukan Pangeran dan membawanya ke hadapan raja. Maka siapakah yang diberikan hadiah yang besar. Apakah orang yang membawa pangeran atau yang menari dan menyanyi untuk raja? Tentu, orang yang membawa pangeran itulah yang diheri hadiah lebih besar.

Itulah sebabnya orang yang mengembalikan manusia kepada Allah lebih besar ganjarannya daripada orang yang hanya shalat dan ibadah untuk diri mereka sendiri.

Orang yang mengajak manusia kepada Allah tidak akan sama nilainya dengan orang yang beribadah. Antara langit dan bumi

Dari Sahl bin Sad RA, bahwa Nabi SAW bersabda kepada Ali : “Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang melalui perantaraan dirimu, hal itu jauh lebih baik bagimu daripada kekayaan yang sangat berharga.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang mengajak orang lain untuk mengikuti petunjuk, niscaya akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Rukun Islam dan Penyakit

Manusia dibuat dari bahan Api ,Air, tanah dan Angin
Api menjadikan manusia sombong, lihatlah api apabila dinyalakan tak pernah mengarah kebawah tetapi selalu mengarah keatas.

Air mempunyai sifat selalu mengikut bentuk wadah jadi sesuai nafsu saja dan ikut suasana yang penting enjoy
Angin masuk kemana saja walaupun kecil, berkelok dsb inilah simbul riya dimana saja ingin tampil mengatakan sayalah yang buat, kalau tak ada saya tak jadi..dsb

Tanah selalu menelan apa saja yang ada diatasnya dan tak pernah mengeluarkan isinya. inilah simbol bakhil
Maka Rukun Islam telah menghapus semuanya jika diamalkan dengan benar.
  1. Sholat hilangkan takabur
  2. Zakat hilangkan Bakhil
  3. Shaum hilangkan Nafsu dan Rakus
  4. Haji hilangkan kepemilikan/ Riya