Wajah Islam Kini

Ibarat sebuah bola, jika ditekan
dengan tangan permukaannya
secara tidak merata, maka jelas
bagian yang kena tekan akan
penyot. Lain halnya jika
sekelilingnya ditekan secara merata maka bola tidak akan
apa-apa, tetap akan bulat utuh.
(tapi jangan kuat-kuat, nanti
bisa pecah…) Ibarat berburu maling di suatu
kampung, jika setiap penjuru
tidak di jaga, maka si maling
akan bisa lari menyelinap melalui
beberapa pintu pengawasan
yang tidak dijaga. Tapi jika setiap titik dijaga dengan ketat
secara merata, maka bisa
dipastikan malingnya akan
terkepung. Alias tertangkap! Ibarat sebuah gunung, jika
setiap orang yang melihatnya
dari posisinya masing-masing,
maka bisa diramalkan mereka
akan ngotot dan ujung-ujungnya
akan bertengkar. Padahal seandainya masing-masing
mereka saling bertukar posisi,
bisa diramakan mereka akan
saling mengangguk. “Hmm … pantas ente bilang begitu yah..
Baru tau nih” Nah, begitulah nasib Islam. Peot
reot penyot oleh umatnya
sendiri! Solusinya?
Sudah saatya Islam dilihat dari
berbagai aspeknya. Pertama: Aspek Fiqh (Syariat) Ini adalah aspek hukum dalam
Islam. Soal mana yang boleh dan
mana yang tidak boleh. Soal
wajib, sunnat, makruh, haram,
mubah dan seterusnya. Soal
dosa dan pahala. Soal dapat balasan surga dan neraka.
Sebagai contoh begaimana cara
berwuduk, cara sholat, rukun
sholat, cara ini cara itu dan
seterusnya. Singkat kata aspek
ini adalah soal segala tata cara, agar seorang musalin hidupnya
tidak kacau dan semena-mena. Dari kajian inilah bisa dipahami
munculnya banyak mazhab fiqh
dalam Islam, seperti adanya
Mazhab Hanafi, Maliki, Syafii,
Hanbali, Ja’ fari, dan seterusnya. Nah, sayangnya, jika hanya
memahami Islam dari aspek ini,
dan ditampilkan oleh seorang
muslim, maka wajah Islam akan
tampak kaku, seperti seorang
hakim yang siap menokok setiap jengkal tingkah laku orang lain.
Islam tampak tidak menarik dan
malah membosankan. Dan Tuhan,
dalam pandangan muslim yang
terlalu ngotot dibagian ini akan
terkesan seperti sosok hakim yang kejam tak berampun. Kedua: Aspek Ilmu Kalam (Teologi) Bagian ini merupakan kajian
tentang tentang Tauhid dalam
Islam (konsep Keesaan Tuhan).
Berbagai hal tentang Tuhan
dikaji pada bagian ini, mulai dari
eksistensi Tuhan, sifat Tuhan, hubungan Tuhan dengan alam
(manusia), dan termasuk soal
yang paling pelik adalah masalah
takdir Tuhan. Bagian ini tergolong bagian yang
sangat menarik bagi yang suka
memahami Islam secara
substansial. Melampaui batas-
batas fisik, ragawi, harfiah.
Hanya saja bagi sebagian orang, bagian ini bisa membingungkan.
Karena kajian ini membutuhkan
daya nalar, imajinasi dan
perenungan yang mendalam. Dari kajian inilah bisa dipahami
kenapa timbulnya banyak paham
dalam Islam dari sisi Ketuhanan.
Misalnya adanya paham Akidah
versi Sunni, Syiah, Assyari’ ah, Muktazillah, Maturidyah,
Khawarijh, dan seterusnya. Ketiga: Aspek Filsafat Islam Aspek ini sekilas akan terlihat
mirip dengan aspek Ilmu Kalam.
Tapi sebenarnya ada perbedaan.
Dan perbedaan itu akan terlihat
setelah dipelajari secara cermat.
Artinya secara umum, bagian ini relatif sama dengan Ilmu Kalam.
Hanya saja, jika pada Ilmu Kalam
kajiannya hanya khusus pada
Tauhid (tentang Ketuhanan),
maka pada Filsafat Islam sudah
meluas ke banyak hal. Hanya saja semua itu dikaji secara
kritis dan mendalam. Melalui kajian pada aspek inilah
akan diketahui bagaimana mozaik
Filsafat Islam yang bersinar di
Abad Skolastik. Dari situlah akan
diketahui bagaimana pemikiran Al
Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ar Razi dan seterusanya. Ketiga: Aspek Tasawwuf
(Sufisme) Bagian ini merupakan kajian Islam
di bidang kerohanian. Atau dalam
istilah umum yaitu Islam dibidang
Mistisme. Berbeda dengan Ilmu
Kalam dan Filsafat Islam, pada
Tasawwuf ini lebih banyak mengandalkan rasa atau hati
dalam melakoninya. Dan kajian di
bidang ini sangat banyak diminati
bahkan sampai orang-orang di
luar Islam pun sangat tertarik.
Bahkan banyak pengkaji Islam dari luar mengkhususkan karir
intelektualnya dalam mempelajari
Tassawuf Islam, seperti Reynold
Nicholson, Martin Van Brinstain,
William C. Chttick dan seterusnya. Melalui kajian inilah akan
diketahui tokoh-tokoh sufi Islam
yang sangat membanggakan
dalam sejarah mistisme dunia,
seperti Rabi’ ah, Al Hallaj, Abdul Qadir Jaelani, Ibnu Arabi,
Jalaluddin Rumi, dan seterusnya. Keempat: Aspek Sejarah Islam Bagian ini sangat penting untuk
mengetahui mulai dari sejarah
Arab pra Islam sampai Islam
menjalar ke berbagai penjuru
dunia. Dari kajian aspek inilah
bisa dipahami ternyata Islam muncul bukan sekali jadi dari
langit. Ada proses mekanisme
hukum alamiah di setiap jejak
sejarah. Dan dari kajian ini juga
akan bisa dimengerti kenapa
munculnya banyak sekte dalam Islam, kenapa Islam dilain Negara
tidak sama pemahaman dan
pengamalannya. Dan kenapa
tokoh Islam yang dikagumi dan
menjadi panutan di suatu Negara
tidak sama dengan di Negara lainnya. Ini sangat erat
kaitannya dengan proses
penyebaran Islam. Nah, secara gobal lebih kurang
begitulah berbagai sisi yang bisa
dihampiri untuk memahami Islam
secara menyeluruh. Untuk
mengepung Islam dari berbagai
pintu masuk, agar wajahnya yang penyot-penyot relatif bisa
dikurangi. Sehingga sikap
fanatisme buta bisa diberantas.
Karena gejala fanatisme dalam
Islam biasanya muncul karena
umatnya hanya ngotot memahami Islam dari satu sisi
saja, apalagi yang hanya
menghafal 2 potong ayat
Alquran lalu mendadak sudah
menjadi satpam Islam yang suka
melempar granat Allahu Akbar ke mana-mana. Dan, ujung-ujungnya, diharapkan
citra Islam bisa tampil sejuk dan
mendamaikan dalam pentas
agama dunia. Bahkan lebih dari
itu Islam bisa terlihat lebih
menarik dan menggoda untuk dipelajari dunia. ———————————————————————————————————— -

0 Response to "Wajah Islam Kini"

Total Pageviews

Chat

langganan

Untuk berlangganan artikel, masukan email anda: amal agama