Revolusi Digital dan Perombakan Paradigma Bisnis

Inilah era digital, hampir setiap saat kita tidak bisa lagi terlepas dari gempuran data digtal. Mulai dari yang paling jadul teks digital sms, kemudian disusul email, chat, message, status, comment, tweet, ip voice/ phone, ip camera, e- brochure, e-news paper, e- tabloid, e-magazine, e-book sampai berbagai data dalam format jpeg, tiff, gif, mp3 dan mp4. Semua yang saya sebutkan tersebut adalah dalam format digital. Revolusi digital ternyata sudah kian dalam masuk dalam aktivitas kehidupan kita. Maka tak aneh kalau dalam bidang bisnispun tak luput oleh terjangan revolusi digital ini. Berbagai aktivitas bisnis lama yang masih mengandalkan pada dunia analog akan tergilas habis oleh datangnya era digital. Maka setiap lini bisnis hendaknya harus meredefinisikan kembali value- nya yang akan ditawarkan pada customer-nya atau lebih luas lagi pada setiap stockholder- nya. Sebagai ilustrasi, lima tahun lalu kita masih mengandalkan kaset atau CD dalam memutar musik, kini tradisi ini sudah kian ditinggalkan. Kita cukup mengunduh lagu dalam format mp3 ataupun video dalam vormat mp4 untuk menikmati alunan lagu ataupun untuk berkaraoke ria. Paradigma bisnis musik pun sudah berubah total, dari semula yang mengandalkan penjualan album lagi yang terukur dari penjualan kaset atau CD kini kesuksesan sebuah lagu bisa diukur dari penggunaan ring backtone ataupun pengunduhan lagu via e-store musik. Pada sektor media aroma perubahan itu sudah kian nyata terlihat, bahwa oplah sebuah media cetak baik surat kabar harian, tabloid maupun majalah sudah mencapai puncaknya. Ke depan yang ada adalah penurunan secara masif terhadap pelanggan media cetak tersebut. Betapa hebatnya surat kabar tersebut kalau tidak mulai berubah makan akan ditinggalkan oleh pelanggannya. Contoh paling dramatis kita lihat adalah transformasi Harian Kompas dari media cetak ke arah media online: Kompas.com. Meski masih menjadi leader di surat kabar harian tentu harian kompas tidak mau kehilangan momentum untun mentransformasikan diri ke media digital yang berbasis website dan komunitas. Keadaan tidak jauh beda seperti dalam bisnis media cetak, dalam bisnis penerbitan buku-pun sudah mulai menjajaki beberapa format penerbitan e- book. Seiring dengan makin menjamurnya penggunaan komputer tablet atapun phone- tab sebagai perangkat kerasnya e-book, maka tidak akan lama lagi para penerbit akan menerbitkan bukunya dalam format digital. Hal ini tentu sangat efisien dibandingkan beban ongkos cetak, distribusi serta biaya display outlet yang kini mereka harus tanggung. Dari hasil perhitungan sederhana, sebuah buku cetak yang dijual Rp 50 ribu, kalau dijual sebagai produk e-book maka harganya bisa terdiskon 75% atau bahkan 80%. Dengan pemotongan harga yang demikian besar maka jumlah pembelipun diprediksikan akan meningkat minimal 2 kali lipat. Problem yang mungkin masih tersisa adalah masalah copyright-nya, biar produk e- book tersebut tidak bisa di copy paste kan lagi. Saya kira model bisnis musik yang sekarang ini berkembang dalam beberapa hal bisa kita cangkoknya dalam paradigma bisnis qwickstep.come-book. Ke depan dalam sebuah penerbitan e- book bukan lagi seperti sekarang ini maraknya penerbit-penerbit kecil, namun seorang penulis buku bisa mendesign e-book nya sendiri serta meng-upload ke bloggingnya atau di link-kan pada situs komersiil, kemudian para calon pembacanya tinggal men-download setelah mentransfer sejumlah dana. Pada sektor tour and travel, perubahan paradigma bisnisnya sudah kelihatan terang- benderang, bahwa pembukaan outlet tiket pesawat atau kereta serta sistem pengantaran tiket via kurir sudah kian ditinggalkan para pelanggannya. Para pelanggan sudah mulai bermigrasi lewat transaksi langsung ke website maskapai, pembayaran via ATM dan e-ticket langsung di kirim via email. Sebuah transaksi yang sangat simpel tanpa melibatkan lagi peran travel biro. Kalaupun para pelaku bisnis tour and travel masih mau bertahan paling memfasilitasi booking dan pembayarannya saja, karena harga sudah transparan terpampang di websitenya maskapai, nggak bisa di mark- up lagi, dan alasan biaya kurir sudah tidak dapat diterima lagi karena pengirimannya juga via email alias gratis. Seiring dengan akan diluncurkan Google TV maka salah satu yang terkena dampak langsung adalah TV cable berlangganan. Selama dini mereka mengandalkan penghasilannya dari iuran bulanan dari para pelanggannya. Kalau bisnis Google TV ini sudah kian matang dalam model bisnisnya maka sedikit banyak akan menjadi ancaman bagi bisnis TV cable. Salah satu keunggulan dari Google TV adalah disamping menyediakan saluran live, mereka juga akan menyimpan semua acara TV usai dari tayangan live layaknya seperti youtube, kita setiap saat bisa mengklik acara apa saja, dalam waktu kapan saja, serta akan memenggalnya dalam bagian mana saja yang kita anggap penting untuk dilihat. Melihat makin derasnya revolusi digital ini masuk dalam sumsum kehidupan manusia, maka konsekuensi logisnya adalah adanya perubahan radikal paradigma bisnis yang akan melanda pada semua sektor usaha. Siapkah perusahaan nasional kita menghadapi tantangan zaman ini, atau mereka masih akan ngotot mempertahankan dengan model- model bisnis usang. Kalau perusahaannya tidak mau masuk museum alias kalah bersaing dan bangkrut maka mulailah dari sekarang, dengan mengerahkan semua potensi yang ada, segera me-redifinisi ulang Paradigma Bisnisnya. Sekarang atau Mati !
www.watblog.com

0 Response to "Revolusi Digital dan Perombakan Paradigma Bisnis"

langganan

Untuk berlangganan artikel, masukan email anda: amal agama