Kemenangan dalam pandangan Islam!

Kemenangan dalam Islam tidak selalu berkolerasi dengan kekuasaan,
jabatan, dan atribut-atribut duniawi. Kemenangan dalam Islam tidak
selalu berkolerasi dengan semua kemegahan, kemewahan,kekayaan, harta,
dan bentuk-bentuk yang secara manusiawi menjadi keinginan dan kehendak
nafsu manusia. Terkadang kemenangan dalam Islam itu, di mata manusia
yang jahil, dilihat sebagai yang hina, dan tidak rasional.
Kemenangan dalam Islam ialah ketika seseorang itu, tetap istiqomah di
jalan-Nya, sampai akhir hayat. Kemenangan dalam Islam itu, ketika
seseorang tetap taat, tunduk, patuh, hanya beribadah kepada Rabbul
Alamin. Menjadikan Rabbul Alamin, sebagai satu-satunya Dzat yang
berhak diibadahi dan disembah. Tidak ada yang lain.
Seluruh hidupnya hanya diorientasikan mencari ridho-Nya. Keinginannya
yang kuat tidak akan meninggalkan dienul haq (al-Islam), sampai ajal
menjemputnya. Karena, hanya Islam yang dapat menyelamatkan dirinya, di
akhirat, kelak. Tidak ingin termasuk orang-orang atau golongan yang
disebut rugi diakhirat kelak.
Tidak sedikitpun tergoda dengan berbagai bentuk aksesoris dan
gemerlapnya kehidupan dunia. Karena semua atribut dunia serta isinya,
hanya akan membuat manusia sengsara, terutama manusia yang memiliki
ambisi-ambisi duniawi. Tak akan pernah puas,dan terpuaskan, siapa saja
yang ingin menikmati kehidupandunia. Berupa jabatan, kekuasaan, harta,
kemewahan, serta berbagai kenikmatan kehidupan. Karena, semua itu
hanya akan menjadi penghalangbagi manusia menjadi dekat dengan
Rabbnya.
Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, tidak pernah mengajarkan umatnya
meregukkenikmatan kehidupan dunia. Semua pernik-pernik yang ada di
dunia itu, hanyalah bentuk wasilah yang diberikan oleh Rabbul Alamin,
agar menjadi pengingat, dan sekaligus agar manusia bersyukur, dan
semakin taat, tunduk, dan patuh kepada Rabbnya. Bukan semakin menjauh,
lupa, dan tidak bersyukur, dan menjadikan dunia menjadi tujuan
hidupnya. Mereka yang mengejar kenikmatan dunia, pasti akan jatuh
tersungkur, serta menjadi hina-dina.
Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, panutan yang mulia dan agung,
tidak pernah tergoda sedikitpun dengan pernik-pernik dunia. Jika
baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wasslam, tergoda dengan kehidupan
dunia, maka beliau manusia yang pertama, memiliki kekuasaan, jabatan,
harta, danisteri-isteri yang paling cantik, yang pernah ditawarkan
kafir Qurays. Tetapi, itu bukanlah pilihan oleh panutan yang
mulia,Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam.
Ketika awal dakwahnya, beliau di Makkah, sudah mendapatkan tawaran
dari para pembesar kafir Qurays, agar Rasulullah Shallahu Alaihi
Wassalam, mau melakukan "tanazzul" (kompromi) dengan kafir Qurays.
Tetapi, Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam menolak. Segala atribut
dunia ditawarkan oleh kafir Qurays. Jabatan, harta, dan wanita (Tiga
T), tetapi tetap RasulullahShallahu Alaihi Wassalam, lebih memilih
tetap dalam ketaatannya kepada Allah Rabbul Alamin.
Beliau Shallahu Alaihi Wassalam tetap dengan sabar terus mendakwahkan
agama Allah ke seluruh penduduk di jazirah Arab. Rasulullah tetap
berdakwah, mendidik, mengajarkan al-Qur'an kepada masyarakat, dan dari
rumah kerumah. Sampai Allah Azza Wa Jalla mempertemukan dengan kafir
Qurays dalam medan jihad,dan hanya dengan dibantu para shahabat yang
jumlahnya masih sedikit.
Allah Azza Wa Jalla, memberikankemenangan kepada Rasulullah Shallahu
Alaihi Wassalam, yang kemudian dikenal dalam sejarahsebagai Perang
Badr, dan sejarah mencatatnya sebagai kemenangan pertama dalam Islam,
Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, mengalahkan kafir Qurays di
Makkah, yang dikenaldengan "Fathul Makkah". Rasulullah tidak membuat
skenario dan rencana atas kemenangannya. Tetapi, semuanya itu, yang
membuat skenario adalah Allah Azza Wa Jalla.
Rasulullah Shallahu Alalihi Wassalam, hanya mengajak para shahabat,
tunduk, patuh, taat serta bertaqwa kepada Allah Rabbul Alamin. Karena,
hanya dengan ketaatan, ketundukan, dan serta kepatuhan kepada Allah
RabbulAlamin itu, yang akan membawa kemenangan. Rasulullah Shallahu
Alaihi Wassalam, terus mengajarkan sifat taqwa dan hirsy (semangat)
kepada seluruh shahabat.
Sifat taqwa dan hirsy itulah yang membawa kemenangan dalam dakwah
Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam. Kemenangan tidak ada kaitannya
dengan sedikit atau banyaknya pengikut. Tetapi, kemenangan dalam Islam
itu, sangat ditentukan sifat taqwa dan hirsy dari para shahabat.
Semuanya itu dibuktikan dalam sejarah. Peristiwa yang terjadi dalam
Islam, dan kemenangan Islam itu, selalu identik dengan sifat taqwa dan
hirsy. Sebaliknya kekalahan dan kehinaan itu, selalu identik dengan
kesarakahan dan terbuai dengan kenikmatan duniawi.
Ketika Rasulullah Shallahu masih di Thaif, dan jumlah para shahabat
masih sangat sedikit, sudah meramalkan bahwa Persia akan dikalahkan
Romawi,dan Romawi akan dikalahkan oleh kaum Muslimin. Semua yang
diucapkan Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, selanjutnya dalam
perjalanan sejarah terbukti.
Kekalahan kaum Muslimin di Eropa seperti dikisahkan dalam buku cerita
yang berjudul "Granada" menggambarkan para Sultan, yang sudah dibeli
oleh para Kaisar Kristen, dan mendapatkan kekuasaan, dan mereka di
baptis, dan harus meninggalkan agama mereka, yang selama ini menjadi
keyakinan mereka. Islam pernah berjaya selama 8 abad di daratan Eropa,
dan kemudian hilang, akibat para penguasanya sudah tertipu dunia.
Ajaran yang diberikan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam tidak
seperti itu, tidak pernah mengajarkan agar menukar keyakinan aqidah
dengan aksesoris duniawi, yang sangat murah. Aqidah tidak dapat
ditukar dan dihargai dengan uang dan kenikmatan dunia.
Semua sudah dicontohkan Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, dan semua
sangat nyata dalam kehidupan beliau. Rasulullah bersama Siti
Khadijah,orang yang paling kaya, karena sukses dalam berdagang.
Tetapi, Rasulullah Shallahu AlaihiWassalam, manusia yang paling
miskin, di saat beliau meninggal. Tidak ada harta yang ditinggalkan.
Sedikitpun yang bisa dinilai.
Bilal bin Rabah tak pernah mau bersedia mengikuti kafir Qurays, dan
mengikuti agama mereka. Meskipun menghadapi siksaan yang amat dahsyat.
Di jemur di terik matahari, dan diikat serta diseret dengan kuda di
padang pasir. Tetapi, Bilal bin Rabah, tak mau menukar aqidah dengan
kenikmatan dunia.
Semua sakit dan derita dijalanidengan sabar, sampai Allah AzzaWa
Jalla, mentadirkan Bilal menjadi manusia yang mulia disisi-Nya. Tidak
sebanding dengan wajah, pisik, kulitnya yang legam. Tetapi terompah
Bilal bin Rabah sudah terdengardi surga. Betapa mulianya Bilal bin
Rabah, yang bagi para pemuja dunia, kehidupan Bilal, tak masuk akal.
Nabi Nuh Alaihis Salam, berdakwah selama 950 tahun, siang dan malam,
umatnya tetap ingkar. Tak banyak umatnya yang mau (istijabah) menerima
dakwah Nabi Nuh Alaihis Salam, dan terus menentangnya. Bahkan, anaknya
sendiri tak mau taat. Sampa Allah Azza Wa Jalla menurunkan azab kepada
kaumnya, dan terjadi tsunami, yang memusnahkan kaumnya, termasuk
anaknya. Apakah dakwah Nuh Alaihis Salam termasuk gagal?
Mengajak manusia kembali ke jalan Allah Rabbul Alamin, itu tidak ada
korelasi dengan semua atribut dunia, berupa kekuasaan, jabatan, harta,
dankemewahan, serta pernik-pernik kehidupan.
Manusia tidak perlu menentukan kapan kemenangan. Manusia tidak perlu
dengan sangat ambisius memburu kemenangan. Sampai-sampai harus
mengganti dan menukar, nilai-nilai Islam dengan nilai jahiliyah dan
kafir. Karena, kemenangan Islam itu tidak dapat diukur dengan
banyaknya pengikut, dan jabatan dan kekuasaan yang dapat diraih. Semua
itu hanyalah tipuan belaka.
Di era modern ini, manusia-manusia yang sudah terperangkap dalam
sistem jahiliyah dan kafir, ingin mendapatkan jabatan, kekuasaan, dan
aksesoris dunia, mereka melakukan tanazzul (kompromi), dan bahkan ada
yang sampai berani menyelisihi Allah, hukum-hukum Allah, tidak berani
menegakkan hukum Allah, dan bahkan mengingkari. Semuanya agar
mendapatkan suara, dan banyaknya manusia yang mendukungnya.
Kemudian, mereka menjadikan musuh-musuh Allah menjadi pelindung, teman
setianya, dan bahkan berwala' kepada musuh-musuh Allah. Mereka
mengira musuh-musuh Allah ituakan menolong mereka, dan memenangkan
mereka. Semua itu hanya tipuan belaka dari orang-orang kafir,
musyrikin, yahudi dan nasrani. Mereka menjadi sekutu yahudi dan
nasrani. Padahal, yahudi dan nasrani itu, golongan yang paling keras
permusuhan terhadap kaum Muslimin dan Mukminin.
Tugas para pengikut Rasulullah Shallahu Alaihis Wassalam, hanyalah
mendakwahkan agama-Nya kepada seluruh umat manusia. Dengan segala
pengorbanan. Bukan dengan menggunakan agama menjadi alat kedok,
mensiasati Allah danRasulnya, agar mendapatkan kemenangan dunia yang
hina dina itu. Manusia-manusia yang menipu Allah Rabbul Alamin, dan
mereka tidak berdakwah yang menegakkan agama-Nya, pasti akan menjadi
hina.
Kewajiban seorang Mukmin hanyalan mendakwahkan agamaAllah, dan membela
agama-Nya. Itulah jalan kemenangan yang akan diberikan kepada Allah
kepada Mukmin.
Tidak bertanazzul (berkompromi) dengan musuh-musuh Allah, yahudi dan
nasrani, mengikuti ajaran mereka, dan menjadikan mereka sebagai teman
setia, dan kemudian meninggalkan aqidahnya, serta mengubahnya dengan
nilai-nilai jahiliyah dan kafir.
Cara-cara bertanazzul itu bukanlah jalan Islam, jalan kebenaran yang
diberikan oleh Rasulllah Shallahu alaihi Wassalam. Tidak akan pernah
terjadi dalam hidup ini, antara al-haq dengan al-bathil itu bisa
bersatu. Wallahu'alam

3 Responses to "Kemenangan dalam pandangan Islam!"

Ahmad Saadillah said...

Assalamualaikum
artikel nya bermanfaat
salam kenal akhi

islam bugil said...

Subhanallah,,,happy blogging

Wong konsel said...

Walaikunlm salam,,,salam kompak makasih kunjunganya

langganan

Untuk berlangganan artikel, masukan email anda: amal agama